Operasional: Senin – Jumat | 09:00 – 20:00 WIB – Sabtu | 09:00 – 16:00 WIB

Pterygium: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh

Admin

Terakhir diperbaharui pada

17 Februari 2024

Bagikan

Pterygium

Pterygium menjadi salah satu penyakit mata yang jarang didengar oleh orang-orang. Sebab ia memang tidak sepopuler katarak atau kelainan refraksi. Kalau kelainan refraksi seperti miopia, hipermetropi, dan astigmatisme, Anda pasti tahu kan ya?

Nah, agar Anda mengetahui soal penyakit mata ini, langsung saja kita kupas mulai dari definisi, gejala, penyebab, dan cara mengobatinya. Yuk simak!

Apa Itu Pterygium?

Pterygium

 

Pterygium berasal dari bahasa Yunani yakni pterygos yang artinya sayap. Nama ini sesuai dengan gambaran penyakitnya yang menyerupai sayap.

Secara istilah, pterigium adalah kelainan klinis berupa jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga pada limbus kornea. Dengan bahasa yang lebih sederhana, ia adalah penyakit mata yang ditandai dengan tumbuhnya selaput pada bagian putih bola mata yang bisa mencapai kornea.

Penyakit mata ini bisa terjadi pada salah satu mata saja atau kedua mata sekaligus. Kendati patofisiologi penyakit ini belum pasti, sejumlah penelitian menemukan adanya proses degenerasi dan proliferasi serta kerusakan jaringan akibat paparan kronik sinar matahari.

Populasi orang yang terkena penyakit mata ini bervariasi. Ia lebih mudah ditemukan pada negara atau wilayah dengan iklim panas, menandakan pengaruh paparan kronik sinar matahari. Di Indonesia, penderita pterygium sebesar 8,3% dan jumlah tertingginya terdapat di Provinsi Bali.

Baca juga: Apa Itu LASIK

Gejala Pterygium

Pada fase awal atau derajat ringan, gejala penyakit mata ini tidak terasa. Seiring waktu dan semakin parah, keluhan utama adalah mata merah berulang yang disertai dengan iritasi pada permukaan mata.

Jadi, secara rinci, gejala pterigium meliputi:

  • Mata merah berulang
  • Iritasi pada permukaan mata
  • Tumbuh selaput tipis di permukaan bola mata
  • Mata terasa mengganjal
  • Mata terasa berpasir
  • Mata perih

Pada kondisi sedang maupun berat, pterigium dapat mengakibatkan penekanan pada kornea sehingga terjadi distorsi kornea dan menimbulkan astigmatisme alias mata silinder.

Penyebab Pterygium

Penyebab penyakit mata ini belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini lebih banyak terjadi pada mereka yang sering melakukan aktivitas di luar ruangan dan terpapar sinar matahari berlebihan. Sehingga kesimpulan sementara, penyebab pterigium adalah paparan kronik sinar matahari.

Para ahli menduga, paparan ultraviolet kronik merupakan dasar penyebab terjadinya pterygium. Jaringan pterygium merupakan jaringan ikat fibroblast dan pembuluh darah yang berproliferasi dari limbus ke arah kornea. Kerusakan sel punca limbus menyebabkan jaringan dari konjungtiva menyeberang tumbuh ke arah kornea.

Faktor pemicu berikutnya adalah mata kering. Selain itu, pasir, debu, asap, dan angin juga bisa meningkatkan risiko terkena penyakit mata ini.

Baca juga: Syarat LASIK Mata

Cara Mengobati Pterygium

Ada dua cara menangani penyakit ini yakni dengan terapi medikamentosa dan terapi bedah. Jika tidak menimbulkan keluhan, umumnya pterigium tidak membutuhkan penanganan khusus. Untuk mengatasi mata merah dan iritasi akibat penyakit ini, pengobatan dengan obat tetes atau salep mata yang mengandung kortikosteroid sudah cukup. Atau pelumas untuk meredakan peradangan. Inilah terapi medikamentosa.

Namun, untuk memastikan bahwa gejala yang kamu alami benar merupakan pterygium, perlu dokter mata untuk melakukan penegakan diagnosis. Selain melakukan anamnesis, dokter mata juga akan memeriksa selaput tipis pada permukaan bola mata. Umumnya, dokter menggunakan beberapa alat seperti slit lamp dan kaca pembesar. Jika perlu, dokter juga akan mengambil foto mata untuk penegakan diagnosis lebih detail.

Jika pterigium tidak bisa ditangani dengan terapi medikamentosa, tindakan operasi pterigium dapat dilakukan. Terutama jika kemampuan penglihatan mengalami penurunan.

Operasi ini adalah bedah eksisi jaringan pterygium. Indikasi terapi bedah ini dibagi menjadi empat:

  • Penurunan tajam penglihatan
  • Inflamasi berulang
  • Gangguan gerak bola mata
  • Indikasi kosmetik

Indikasi kosmetik maksudnya operasi dengan tujuan utama keindahan atau kecantikan. Sebab penyakit mata ini bisa mengurangi keindahan mata, sehingga operasi pterygium membuatnya kembali tampak seperti sedia kala.

Awalnya, teknik bedah pterigium dilakukan dengan meninggalkan sklera yang terbuka pasca eksisi. Namun, cara ini memiliki angka rekurensi yang sangat tinggi. Oleh karenanya, setelah eksisi, perlu tindakan lanjutan dengan penutupan sklera yang terbuka menggunakan conjunctival autograft atau conjunctivolimbal autograft

Nah Itulah penjelasan mengenai pterigium yang perlu Anda ketahui. Jika Anda terkena gangguan yang serupa atau mata minus, Anda bisa langsung datang ke National Eye Center, sebagai pusat lasik Surabaya yang terpercaya di Indonesia. 

Dengan berkonsultasi pada dokter profesional, Anda akan mendapatkan penanganan yang terbaik untuk kesehatan mata Anda yang optimal.

Di sana Anda juga bisa mendapatkan perawatan yang lebih seperti terapi mata minus anak (Ortho K), operasi lasik mata, pengobatan katarak melalui katarak lensa premium, hingga eyesthetic (kecantikan mata).

Tunggu apa lagi? Yuk Lasik di tempat lasik yang kredibel hanya di National Eye Center!

Bebas kacamata selamanya dalam hitungan detik

Referensi:
American Academy of Ophtalmology. Clinical Optics; 2017-2018 Basic and Clinical Science Course. San Fransisco: American Academy of Ophtalmology; 2018
Universitas Indonesia Faculty of Medicine. Buku Ajar Oftalmologi. Jakarta: UI Publishing; 2020
Sjamzu Budiono, dkk. Buku Ajar Ilmu Keshatan Mata. Surabaya: Airlangga University Press; 2013

Baca juga: Retinoblastoma: Definisi, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati